AKU ANAK BROKEN HOME




“Aku Rapuh, Semua Sudah Hancur”

          Bujangadau Bagai di sambar petir di siang bolong, hari itu ponselku bergetar, kudapat pesan singkat dari seseorang yang tak lain abang ku yang sebelumnya telah memanggil namun tak ku angkat karena ponselku dalam keadaan silent. “Pulang dek, jangan tanggal 21, ada hal penting yang sedang terjadi, mereka cerai.”. Kira-kira begitulah isi pesan singkat itu, ku tak ingat pasti karena jujur aku sangat benci dan menyesal pernah membacanya.

            Sontak saja seakan tidak dapat tertahankan lagi, indra penglihatanku mulai berkaca-kaca dan air nya tumpah sejadi-jadinya. “Aku anak broken home,” gumam ku dalam hati sambil terus mengusap mata dan menenangkan diri.

            Jujur, sulit menerima keadaan yang semua orang pasti tahu sebagaimana besar sakitnya. Malu iya, sakit pasti, hancur sudah jelas. Hah, tidak akan ada narasi yang pas untuk melukiskan betapa beratnya menjadi aku walaupun ia seorang penulis hebat sekelas Tere Liye.

            Retaknya keharmonisan kedua orang tua ku memang sudah sangat lama terjadi, berbagai macam cara mediasi pun sudah ditempuh agar keadaan mencair. Namun, seakan sia-sia saja. Perlakuan bapak yang abai terhadap keluarga memang sangat sulit untuk dimaafkan, apalagi bukan dalam jangka waktu dekat saja, jauh sejak beberapa tahun yang lalu semua ini dimulai.
            Sebenarnya kemungkinan terburuk seperti ini juga sudah kuduga sebelumnya, namun tetap saja, anak laki-laki yang kini sudah berusia 19 tahun ini masih tetap berat menerima hal  terburuk semacam ini. Yahh, sekali lagi kutegaskan “AKU ANAK BROKEN HOME,”.

            Sejak 2 tahun belakangan, aku menguatkan diri dan bersandiwara dalam menjalankan hari-hari ku, aku tegar, kuat, berusaha mencairkan suasana dan berusaha menebar senyuman di hadapan banyak orang. Namun, ketika sendiri aku merasa seolah menjadi seseorang yang paling bodoh sedunia.

            Bagaimana pun aku bukan Tuhan yang sempurna, ada masa dimana aku tidak mampu menahan semuanya, aku rapuh dan lupa segalanya. Maaf, di masa-masa itu aku pernah lalai akan beberapa tugas dan tanggung jawab ku. Kuharap setelah kalian membaca tulisan ini kalian paham betapa beratnya menjadi aku. Bukan untuk di kasihani, aku kuat dan tak apa-apa, hanya dibeberapa waktu aku perlu saat sendiri, menenangkan diri dari semua hal yang menyakitkan ini.

            Begitu pula dengan kondisi akademik ku, 6 bulan belakangan kusadari konsistensi dalam belajar sangat menurun. Ku pasrahkan saja bagaimana hasil dari semester 4 ini. Kehidupan sosial ku pun sangat buruk. Aku hanya ibarat katak dalam tempurung yang hanya akan keluar jika hendak mencari makan, ini hanya pengibaratan saja. Karena memang aku lebih suka menyendiri. 

            Mulai dari saat itu, cibiran orang pun terdengar silih berganti. Membicarakan kondisi keluargaku, kondisi mama, hingga aku yang dicap sebagai anak dari keluarga berantakan itu. Cibiran orang memang tak perlu di hiraukan, anggap saja sebagai tong kosong nyaring bunyi nya. Namun, menganggap mereka sebagai tong kosong tidak semudah itu. 

            Tugasku saat ini hanya berprestasi, menjawab cibiran orang dengan prestasi ku rasa lebih bermanfaat untuk ku. Bismillah, setiap perjuangan pasti akan mendapatkan hasil dan kuharap akau juga akan berhasil esok hari. Hari ini aku terus berusaha mengembangkan diri, berusaha terus mencari ilmu dan pengalaman baru, begitu pula dengan kawan-kawan baru untuk hari esok yang lebih baik. Akan ku buktikan bahwa anak dari keluarga berantakan tidak akan membuat masa depannya juga berantakan. “AKU AKAN SUKSES SUATU HARI NANTI”.

Begitupun dengan prioritasku saat ini, “Ma, aku sayang mama, terima kasih sudah menjadi wanita paling kuat yang selalu ada dibelakang ku. Menjadi orang tua tunggal yang selalu berusaha memenuhi kebutuhan ku, menjadi seseorang paling depan dalam memberiku semangat walaupun hanya melalui media telefon. Panjang umur ma,”.

            Terima kasih Mi, Des … Sudah selalu bersama ku selama ini, mendengarkan keluh kesahku, menjadi tempat curhat saat aku sudah benar-benar penuh menahan keluh kesah. Kuharap kalian tak malu mempunya kawan layaknya aku…
           
Share on Google Plus

About BujangAdau

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

1 komentar :

  1. Broken home juga hampir aku alami. Buktikan kalau kita pohon yang kuat saat dihantam badai. Hidup terlalu indah untuk kita ratapi. Mubazir merenungi kesedihan yang akan menambah Duka org yg kita sayang. Kita tidak bisa memilih dari orangtua mana kita dilahirkan. Tapi bersiaplah jadi orang tua yang baik buat anak cucu kita kelak. Begitu kata dosenku. ��

    BalasHapus