Jiwa dan Raga - Cerita Pendek

Jiwa dan Raga - Cerita Pendek

Tanah yang subur, rakyat yang sejahtera, dan teknologi yang berkembang pesat. Begitulah gambaran bangsa Cyro yang tinggal di lembah Lumine. Bangsa yang dipenuhi orang-orang hebat, dan tanah yang subur. Benar-benar gambaran negara yang 'sempurna'. Namun apa daya, kesempurnaan itu tak bertahan lama. Pada Selasa pagi, terdengar berita dikoran-koran, tentang meninggalnya sang Raja Ymir. Istana telah diambil alih oleh tentara bangsa Anemo, tentara mereka terlihat berkeliaran di jalan-jalan ibu kota. Negara ini resmi menjadi negara jajahan. Perang sudah didepan mata. 

Aku ingat, ketika bangun aku melihat ibu menangis di dapur. Di sampingnya, ayah berdiri sambil mondar-mandir, tak pernah aku melihat ayah secemas ini. "Ada apa, bu?" tanyaku dengan suara cemas. Ibu menjelaskan mengenai berita meninggalnya Raja Fritz dan istana yang dikuasai oleh tentara Anemo. "Mengapa mereka bisa dengan mudah menguasai istana?" tanyaku, "Tentu saja mereka dapat menyusup dengan mudah, militer kita ini isinya tikut-tikus tanah! Tidak ada apa-apanya dibading tentara Anemo!" Jawab ayah dengan gusar. 

Sekarang aku tahu salah satu kelemahan negara ini. Aku menatap ibu yang masih terisak. Ibupun mulai bicara, "Mereka akan meminta rakyat untuk membantu militer turun perang, namun ayahmu-" 

"Sudah kubilang, aku yang pergi! Jangan Leo!" ayah memotong perkataan ibu, suaranya lebih tinggi dari sebelumnya. Leo adalah kakak laki-lakiku, usianya 4 tahun lebih tua dari padaku, dialah harapan keluarga kami. "Dia masih muda, masih panjang jalannya, aku tak ingin dia mati sia-sia dimedan perang." Ayah melanjutkan perkataannya, suaranya lebih lembut dari sebelumnya. 

***

Keheningan mulai menyelimuti, aku putuskan untuk pergi ke kamar kakakku. Setelah beberapa kali mengetuk, akupun memasuki kamarnya. Kertas sobekan berserakan dimana-mana, sementara Leo hanya duduk di atas ranjang sambil menatap jendela kamarnya. Aku duduk di sampingnya, namun tak ada satupun dari kami yang bicara. Hanya hening dan suara-suaradari luar kamarnya yang terdengar. "Aku ingin berangkat, namun ayah mencegahku." 

Akhirnya Leo membuka pembicaraan, namun pandangannya masih mengarah ke jendela kamar, enggan menatapku. Aku diam dan mendengarkan, disaat seperti ini aku hanya perlu diam dan membiarkan dia bicara. "Aku ini putra pertama Lisa, aku yang seharusnya turun bukan ayah. Dia sudah tua, sudah saatnya aku menggantkannya, bagaimana aku bisa melindungi keluarga ini jika aku tak mampu untuk pergi berperang?" Ucap Leo, kini dia menoleh ke arahku, aku bisa melihat matanya berkaca-kaca menahan tangis. "Kau tahu bangsa Pyro?" tanyanya padaku. "Bangsa yang telah punah itu?" "Mereka tak punah Lisa, namun jumlah mereka berkurang pesat. 

Kau tahu, dulu mereka negara kuat seperti kita, hingga bangsa Anemo itu datang, dan melenyapkan mereka." Aku tertegun, persaan takut mulai menghantuiku. "Genosida maksudmu?" tanyaku dengan hati-hati. "Tepat sekali! Mereka membunuh perempuan, anak-anak, dan pemuda. Memasukkan  mereka kesuatu tempat, dan membantai habis mereka.

" Aku bisa melihat ketakutan dan ketegangan dimata Leo. "Kau tahu mengapa mereka melenyapkan bangsa Pyro, karena mereka berfikir bangsa itu terlalu tangguh. Akan mengancam kedamaian dunia, mereka takut bangsa Pyro akan menyulut perang. Itu alasana yang sama mengapa mereka menyerang istana, dan membunuh raja kita." Aku terdiam, tak mampu melakukan apa-apa, hanya terdiam mendengarkan. "Mereka menggunakan alasan perdamaian, padahal mereka hanya ingin memperluas wilayah dan memperkuat diri sendiri.

Perang dunia akan terjadi sebentar lagi. Kau tahu negara-negara lain sedang berlomba-lomba membuat senjata untuk beradu kekuatan. Jika kita tidak melawan kita akan musnah seperti bangsa-bangsa sebulumnya." Leo sekarang menatap jendala kamar lagi, angin lembut yang masuk sedikit menerbangkan rambut panjangnya. "Bagaimana jika kita berunding dengan tentara Anemo dari pada berperang melawan mereka?" Tanyaku, Leo menoleh padaku.

"Berunding? Perundingan tidak ada gunanya sekarang. Satu-satunya jalan adalah melawan!" Ucapnya dengan penuh semangat, namun aku dapat merasakan kemarahan dalam suaranya. "Aku akan pergi Lisa, aku tak peduli caranya. Jika aku pergi tolong jaga ibu, dan ayah. Paham? Aku tahu kau bisa Lisa." Ucapnya sambil menggenggam tanganku. Matanya menatapku dalam, penuh harapan. Aku mengiyakan, sambil berjanji dalam hati, aku akan menjaga kedua orang tuaku. 

Seminggu kemudian, surat dari pemerintah datang. Mereka meminta salah satu anggota keluarga kami untuk menjadi relawan perang. Ayah kembali berdebat dengan Leo. Mengenai siapa yang harus pergi, dan siapa yang harus tinggal. Aku hanya bisa diam, merenung di kamar. Hasilnya Leo kalah, ayah yang akan berangkat. Seminggu kedepannya, ayah menyiapkan keberangkatannya. Menyiapkan segala perlengkapan yang akan dibutuhkan dimedan perang. 

Selama dua minggu ini, aku tak pernah bicara dengan Leo, mungkin karena aku sibuk membantu ayah, dan Leo juga lebih sering menghabiskan waktu di luar dengan teman-temannya. Ayah mengjariku berbagai hal mengenai toko kami. Keluarga kami memiliki toko perlengkapan jahit yang cukup besar, dan ayah menunjukku untuk mengurs toko ini selama ia pergi. 

Hingga tiba hari keberangkatan ayah. Aku dan ibu ikut mengantarnya menuju balai kota. Hingga hari itu, aku tak pernah sekalipun bicara dengan kakaku. Dia hanya diam di rumah ketika aku dan ibu mengantar ayah, dia hanya memberikan ucapan selamat tinggal kecil untuk ayah, sebelum ayah berangkat. Perpisahanku dengan ayah berjalan sendu, ayah memelukku dan ibu, tanpa banyak bicara. Nampak diraut wajahnya kesedihan, namun aku dapat melihat sedikit hangatnya harapan saat dia menatapku. Sampai jumpa ayah, sampai bertemu lagi.

Tak sampai disitu, dua hari kemudian, Leo menghilang. Aku dan ibu telah mencarinya kemana-mana, namun kami tak menemukannya. Aku mulai gusar, aku mencoba mencari kekamarnya dan yang aku temukan hanya secarik surat. Surat itu ditulis dengan tulisan Liyue, semacam Bahasa dearah bangsa kami. Tak banyak orang yang menguasai Bahasa ini. Pesan itu tertulis "Aku pergi, jangan bilang ibu. Surat lain akan menyusul, Benneth akan menemuimu." Benneth adalah salah satu teman kami, umurnya tidak jauh berbeda dengan kakakku. Aku menyimpan surat itu dari ibu. 

***

Hari selanjutnya, ketika aku sedang menjaga toko kami. Benneth tiba, dia datang seperti hendak membeli barang, namun diam-diam menyusupkan surat kecil itu padaku. Surat kedua dari Leo, dia bercerita bahwa dia bergabung dengan Gerakan pemberontak. Sekumpulan pemuda yang tersisa di kota ini. Mereka merencanakan perebutan wilayah dari tentara Anemo. Inilah alasan mengapa Leo lebih sering menghabiskan waktunya di luar. Dia tidak ingin ada yang tahu mengenai rencanya. Karena itu dia menulis surat ini dalam Bahasa Liyue.

Hari-hari berikuntnya Benneth datang mebawakan surat. Kadang dia menyelipkan surat ini  didalam tasku atau dikeranjang buah. Kadang pula dia mengajakku bertemu di danau dan berpura-pura memberikan surat cinta. Leo menceritakan rencana-rencananya. Dari bagaimana mereka menghindari patrol tentara Anemo, rencana-rencana musuh, dan strategi-strategi selanjutnya mereka. Bahkan rencana genosida berhasil mereka ketahui, dan aku akan selelu membakar surat-surat pemberiannya setelah selesai membaca, hingga tidak ada yang tahu apa yang kami bicarakan.

Kadang aku juga membalas surat-surat tersebut, kuceritakan kekhawatiran ibu, bagaimana keadaan toko hari itu, dan hal-hal yang terjadi disekitarku. Aku tahu apa yang dilakukan Leo sangat berisiko, bisa saja ada yang menyabotase kami dan membongkar isi suranya. Namun diapercaya padaku, dan aku tidak boleh menyia-niyakan kepercayaannya.

Surat Leo hari ini berisi tentang rencana mereka mengambil alih istana. Dia bercerita rencana ini sudah matang, skitar 3 hari lagi mereka akan merebut kembali istana. Rasa takut mulai mengahantuiku. Bagaimana jika Leo bertemu ayah nanti? bagaimana jika gagal? dan banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya menghantuiku. Ayah juga sering bertukar surat denganku dan ibu. 

Ayah bercerita ia akan kembali ke kota ini secepat mungkin, dikarenakan para pemimpin itu memindahkan posisinya. Artinya aku dapat bertemu ayah kembali, namun aku takut jika dia bertemu dengan Leo. Surat-surat Leo semakin bertambah. Semakin hari, rasa takutku semakin besar. Leo selalu berkata bahwa dia akan baik-baik saja, namun rasa takutku tetap berada disana. Malam harinya, tepat pukul 2 malam suara tembakan terdengar. Jantungku berdebar kencang.

Suara tembakan terdengar saling bersautan. Walaupun rumahku cukup jauh, namun suara itu terdengar jelas. Ibu ikut tidur di kamarku, kami berpelukan sambil membaca doa, semoga Tuhan melindungi keluarga kami. Keesokkan harinya berita pengambil alihan istana terdengar, operasi itu berhasil. Gerakan pemuda berhasil memukul mundur tentara Anemo dan mengambil alih istana. Namun, ada beberapa pemuda yang gugur dimedan ini. 

Perasaanku mengatakan Leo tidak baik-baik saja.  Dua hari setelahnya ayah pulang. Wajahnya tak secerah biasanya. Dia tidak banyak berbicara, hanya lesu dan sedih. Cemas dan takut semakin menyerangku, ayah tahu sesuatu. Dihari yang sama Benneth datang, membawa kami sekeluarga kesuatu tempat. Tempat yang belum pernahku kunjungi sebelumnya, sebuah perkampungan sepi di tepi kota. Benneth membawa kami ke sebuah rumah. 

Rumah ini berisi sekumpulan pemuda. Gerakan pemuda, itu pasti mereka. Mereka menuntun kami ke sebuah ruangan. Diatas ranjang terbaring sesosok laki-laki. Aku tahu itu siapa, tapi aku belum siap menerimanya. Mereka membuka selimut yang menutupi sosok tersebut. Dugaanku benar. Diatas ranjang tersebut, terbaring sosok yang selama ini menjadi penerangku. 

Rambut Panjang sebahunya tampak lebih kusut. Wajahnya pucat namun sangat damai. Aku tak mampu berkata-kata. Hanya air mata yang mengalir, sementara ibu sudah terisak-isak sambil menggenggam tanganku. Ayah jatuh, terduduk di lantai. 

"Aku melihatnya, aku melihat putraku di medan." Ucap ayah disela isak tangisnya. "Aku melihatnya! Putraku, seorang pahlawan" ayah menggenggam tangan Leo.  Mimpi buruk keluargaku benar-benar terjadi. Leo pergi meninggalkan kami, untuk selamanya. Sebagai permintaan terakhir, Leo ingin keluarganya melihatnya terlebih dahulu sebulum dia dikubur. Dia juga menitipkan surat terakhirnya kepada Benneth. Aku menggenggam surat itu. 

***

Proses pemakaman berjalan sunyi. Hanya suara isak samar-samar yang terdengar. Aku menatap makam Leo dengan diam. Makamnya hanya berupa gundukkan tanah dengan nisan tanpa nama. Setelah proses pemakaman berlangsung. Aku dan keluarga memutuskan untuk pulang. Sampai dirumah kubuka surat dari Leo. Tertulis disurat itu " Adikku yang aku sayangi  Lisa Braun. 

Bagaimana kabarmu? Semoga kau baik-baik saja. Kutulis surat ini sesaat sebelum aku berangkat. Jujur aku sedikit tegang, tapi semoga usaha ini berhasil. Lisa, jika aku tak dapat kembali, tolong simpan surat ini, jangan kau bakar seperti biasanya. Jika aku tak kembali, berjanjilah untuk menjaga ibu dan ayah. Jadilah pelindung dan cahaya bagi mereka, kau anak yang cerdas, kau pasti bisa. 

Tugasku disini telah selesai, saatnya giliranmu untuk berjuang. Lisa, tidak semua konflik dapat kau selesaikan dengan perundingan, kadang juga kau perlu melawan untuk menang. Yang terpenting, selalu berusaha dan pantang meyerah. Tidak banyak yang dapat kusampaikan disurat ini, jaga dirimu, ibu dan ayah, dan jangan takut untuk berjuang demi orang lain. Aku harus pergi, sampai jumpa Lisa.

" Surat itu berhenti. Aku mendekap surat berbahasa Liyue tersebut, entah mengapa bahasa daerah kami terasa lebih istimewa kali ini. Tangisku pecah, hingga membasahi kertas surat tersebut. Aku punya kewajiban sekarang, menjadi penerang bagi keluargaku, tak hanya keluargaku namun juga bangsa ini. 

Setelah puas menangis, aku turun kelantai bawah. Kulihat ayah dan ibu sedang duduk dimeja dapur. Ayah memanggilku, memintaku duduk di hadapannya. 

"Lisa, hari ini kita telah kehilangan anggota keluarga yang sangat berharga, seorang pahlawan bagi bangsa kita. Ini pesan dari ayah, jadilah pahlawan! Jadilah mereka yang tidak kenal takut melawan keadilan. Kau bisa Lisa! Ayah yakin itu. Jangan putus dengan harapanmu!" ayah menatapku dalam. Aku mengiyakan perkataan ayah. Sama ketika Leo bicara denganku di kamar waktu itu, aku berjanji untuk melindungi keluargaku, tidak hanya keluargaku namun  juga bangsa dan negara ini. Aku, Lisa Braun, berjanji akan menjadi pahlawan bagi bangsa dan negaraku. 

***

Pesan moral dari cerita pendek diatas antara lain :

1. Berkorban demi bangsa dan negara merupakan kewajiban seorag warga negara

2. Jangan pernah putus semangat bagaimapun keadaanya

3. Jadilah orang yang dapat memberikan manfaat untuk orang lain. 


Ditulis oleh : AFWA ANISA (XI IPS 1) SMAN 1 Pontianak

Proyek MID Semester Sejarah Minat Materi PD 1 dan PD 2


Tidak ada komentar