Perbincangan mengenai agama, kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB), serta lingkungan hidup menjadi semakin penting di tengah kehidupan masyarakat yang beragam. Berangkat dari hal tersebut, SADAP Indonesia menyelenggarakan diskusi bertema “Menjaga yang Hidup: Agama, KBB, dan Lingkungan” di Pontianak, Sabtu (19/9/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang bersama untuk melihat hubungan antara nilai-nilai agama, penghormatan terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan, serta tanggung jawab manusia dalam menjaga lingkungan.
Diskusi menghadirkan dua narasumber dengan perspektif yang saling melengkapi. Rio Pratama, Ketua SADAP Indonesia, membawakan topik “Agama & KBB: Menemukan Titik Temu dalam Kehidupan Bersama”. Sementara itu, Ningsih Sepniar Lumban Toruan dari LBH Kalbar membahas topik “Alam dan Agama”.
Dalam pemaparannya, Rio Pratama menekankan bahwa agama dan KBB tidak seharusnya ditempatkan sebagai dua hal yang berseberangan. Justru, nilai-nilai kemanusiaan yang terdapat dalam berbagai ajaran agama dapat menjadi titik temu untuk membangun kehidupan bersama yang saling menghormati.
“Kebebasan beragama dan berkeyakinan bukan hanya soal bagaimana seseorang menjalankan agamanya sendiri, tetapi juga bagaimana kita memberikan ruang bagi orang lain untuk menjalankan keyakinannya. Titik temunya ada pada penghormatan terhadap martabat manusia dan kehidupan bersama,” ujar Rio.
Menurutnya, keberagaman tidak cukup hanya diakui sebagai kenyataan sosial. Keberagaman perlu dirawat melalui sikap saling menghormati, dialog, serta upaya mencegah diskriminasi dan kekerasan atas dasar agama maupun keyakinan.
“Kalau kita berbicara tentang kehidupan bersama, maka kita tidak bisa hanya memikirkan kelompok kita sendiri. Ada orang lain yang juga memiliki hak yang sama untuk hidup aman, beribadah, berkeyakinan, dan menjadi dirinya sendiri,” lanjutnya.
Sementara itu, Ningsih Sepniar Lumban Toruan mengajak peserta melihat alam bukan semata-mata sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan manusia, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang perlu dijaga.
Relasi manusia dengan alam, menurutnya, juga dapat ditemukan dalam berbagai nilai keagamaan yang mengajarkan tanggung jawab, keseimbangan, dan penghormatan terhadap kehidupan.
Pembahasan tersebut kemudian memperluas cara pandang peserta bahwa persoalan lingkungan tidak berdiri sendiri. Kerusakan lingkungan dapat berdampak pada kehidupan masyarakat, termasuk kelompok-kelompok yang memiliki keterbatasan dalam mengakses sumber daya dan ruang hidup yang aman.
Diskusi juga menjadi ruang untuk menghubungkan persoalan lingkungan dengan nilai keadilan. Menjaga alam pada akhirnya bukan hanya tentang menanam pohon atau mengurangi sampah, tetapi juga tentang memastikan manusia dan makhluk hidup lainnya dapat terus memiliki ruang untuk hidup secara layak.
Ilham Kurniawan, Koordinator kegiatan, dalam wawancara menyampaikan bahwa tema kegiatan sengaja dirancang untuk mempertemukan isu yang selama ini kerap dibicarakan secara terpisah.
“Kami ingin melihat bahwa agama, KBB, dan lingkungan sebenarnya memiliki irisan yang kuat, yaitu sama-sama berbicara tentang kehidupan. Ketika kita bicara tentang menjaga yang hidup, maka kita tidak hanya berbicara tentang manusia, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan alam dan menghargai keberagaman yang ada,” ungkap Ilham.
Ia berharap diskusi tidak berhenti pada pemahaman secara konseptual, tetapi dapat mendorong peserta membawa nilai-nilai tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari.
“Ruang diskusi seperti ini penting karena kita bisa saling belajar dari perspektif yang berbeda. Harapannya, setelah kegiatan ini peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga memiliki cara pandang baru dalam melihat keberagaman, kebebasan beragama dan berkeyakinan, serta hubungan manusia dengan alam,” tambahnya.
Bagi SADAP Indonesia, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun ruang dialog yang aman dan inklusif. Agama, keberagaman, hak asasi manusia, dan lingkungan ditempatkan sebagai isu yang dapat dibicarakan bersama, bukan untuk mempertentangkan perbedaan, tetapi untuk menemukan nilai bersama dalam menjaga kehidupan.
Pada akhirnya, “Menjaga yang Hidup” bukan sekadar tema diskusi. Ia menjadi ajakan untuk melihat kembali bagaimana manusia hidup bersama: menghormati keyakinan orang lain, menjaga keberagaman, sekaligus merawat alam sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan.


Tidak ada komentar