Ada perjalanan yang awalnya kami kira hanya tentang sebuah perlombaan, tetapi kemudian berubah menjadi ruang belajar yang jauh lebih besar.
Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI bagi siswa SMAN 1 Pontianak pada awalnya adalah tentang belajar. Belajar memahami Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Belajar mengingat, memahami, menjawab, dan mempertahankan argumentasi. Namun, perjalanan itu kemudian membawa kami pada pelajaran yang tidak tertulis di buku.
Pada babak final tingkat Provinsi Kalimantan Barat, terjadi polemik dalam penilaian terhadap jawaban peserta. Peristiwa tersebut kemudian menjadi perhatian publik. Bagi saya sebagai guru, situasi itu bukan hanya tentang menang atau kalah dalam sebuah perlombaan. Ada sesuatu yang lebih penting untuk dipelajari anak-anak, bagaimana menyikapi ketidaksetujuan, bagaimana berani menyampaikan pendapat, dan bagaimana tetap menjaga sikap ketika berada dalam situasi yang tidak mudah.
Saya melihat sendiri bagaimana anak-anak belajar mempertahankan apa yang mereka yakini benar. Mereka belajar bahwa keberanian menyampaikan pendapat harus berjalan bersama dengan pengetahuan, argumentasi, dan etika. Dan mungkin, di situlah makna empat pilar kebangsaan menemukan bentuknya yang nyata.
Pancasila bukan hanya materi yang dihafalkan untuk menjawab pertanyaan lomba. Nilai-nilainya hadir ketika kita belajar menghargai perbedaan, bersikap adil, mendengarkan orang lain, dan menyelesaikan persoalan dengan cara yang bermartabat.
UUD 1945 bukan sekadar teks yang dipelajari. Ia mengajarkan bahwa kehidupan bersama membutuhkan aturan dan keadilan. NKRI bukan hanya tentang batas wilayah. Ia tentang rasa memiliki dan tanggung jawab sebagai bagian dari bangsa yang besar. Sementara Bhinneka Tunggal Ika mengingatkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk berhenti berjalan bersama.
Beberapa hari setelah peristiwa tersebut, kami mendapat kesempatan yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Sepuluh siswa SMAN 1 Pontianak bersama tiga guru pendamping berangkat ke Jakarta dan bertemu langsung dengan Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, di Istana Wakil Presiden pada 13 Mei 2026.
Bagi anak-anak, bertemu Wakil Presiden tentu menjadi pengalaman yang luar biasa. Tetapi bagi saya, yang paling penting bukanlah foto di Istana atau kesempatan bertemu seorang pejabat negara. Yang paling penting adalah apa yang mereka bawa pulang dari pertemuan itu.
Wapres memberikan motivasi agar mereka terus belajar dan berprestasi, sekaligus mengasah kemampuan berbicara di depan umum, berdebat, dan mempertahankan argumentasi. Saya melihat perjalanan ini sebagai bagian dari pendidikan yang sesungguhnya.
Anak-anak tidak hanya belajar dari guru. Mereka belajar dari pengalaman. Mereka belajar dari situasi yang tidak sesuai harapan. Mereka belajar bahwa ketika menghadapi persoalan, pilihan kita bukan menyerah atau marah, tetapi berusaha memahami, menyampaikan pendapat, dan terus bertumbuh.
Ada satu hal yang semakin saya yakini sebagai guru: pendidikan tidak selalu terjadi ketika guru sedang menjelaskan di depan kelas. Kadang pendidikan hadir ketika seorang siswa berdiri dan berani mengatakan apa yang diyakininya.
Kadang pendidikan hadir ketika seorang anak harus menerima bahwa sebuah perjuangan tidak selalu berakhir sesuai harapan. Dan kadang pendidikan hadir ketika mereka mendapat kesempatan berdiri di sebuah tempat yang sebelumnya hanya mereka lihat dari layar, lalu menyadari bahwa perjalanan mereka ternyata bisa sampai sejauh itu.
Saya bangga bukan semata-mata karena anak-anak pernah bertemu Wakil Presiden. Saya bangga karena mereka telah mengalami proses menjadi pembelajar yang berani, kritis, dan tetap mau bertumbuh.
Bagi saya, perjalanan LCC Empat Pilar ini akhirnya bukan lagi tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Ini tentang bagaimana anak-anak belajar menjadi warga negara. Belajar bahwa pengetahuan harus disertai keberanian. Keberanian harus disertai tanggung jawab. Dan perjuangan harus tetap disertai sikap yang menghargai orang lain.
Dari Pontianak menuju Jakarta, dari ruang perlombaan menuju Istana Wakil Presiden, anak-anak itu mungkin membawa banyak hal: pengalaman, cerita, dan kenangan. Tetapi saya berharap mereka membawa pulang satu hal yang jauh lebih penting:
keyakinan bahwa suara mereka berharga, pengetahuan mereka penting, dan mereka punya ruang untuk tumbuh menjadi generasi yang mampu menjaga Indonesia dengan caranya masing-masing.
Sebab pada akhirnya, empat pilar kebangsaan bukan hanya untuk dihafalkan. Ia untuk dihidupkan.
%207.59.52%20AM.jpeg)
Tidak ada komentar