Ketika Bukan Hanya Murid yang Lelah: Catatan Guru di Tengah Kabut Asap

Ketika kabut asap datang dan sekolah harus menyesuaikan pembelajaran, perhatian kita sering kali langsung tertuju kepada murid. Apakah mereka bisa belajar dari rumah? Apakah mereka memiliki perangkat dan jaringan internet? Apakah mereka memahami materi? Apakah tugas-tugas mereka tetap dikerjakan? Semua pertanyaan itu penting.

Tetapi ada satu hal yang juga perlu kita bicarakan, guru juga bisa lelah. Guru juga bisa mengalami tekanan.

Saya melihat pembelajaran daring bukan sekadar memindahkan kegiatan belajar dari ruang kelas ke layar. Terlebih di sekolah besar dengan jumlah murid yang banyak. Ketika satu kelas berisi puluhan murid dan seorang guru mengajar beberapa kelas sekaligus, perpindahan ke pembelajaran daring membawa pekerjaan tambahan yang tidak selalu terlihat.

Guru harus menyiapkan materi yang dapat dipahami tanpa penjelasan langsung di kelas. Instruksi harus dibuat lebih jelas. Kehadiran perlu dipantau. Pertanyaan murid datang melalui berbagai kanal. Tugas harus diperiksa satu per satu. Umpan balik tetap harus diberikan. Murid yang tertinggal perlu dihubungi. Belum lagi administrasi pembelajaran yang tetap harus berjalan.

Di kelas, seorang guru mungkin dapat menjelaskan satu materi kepada puluhan murid dalam waktu yang sama. Dalam pembelajaran daring, satu penjelasan terkadang berubah menjadi puluhan percakapan individual dan di situlah persoalannya. Jam belajar mungkin berkurang, tetapi pekerjaan guru belum tentu berkurang.

Bahkan dalam kondisi tertentu, pekerjaan justru terasa semakin panjang karena batas antara waktu mengajar dan waktu di luar mengajar menjadi semakin tipis.

Hal ini bukan sekadar perasaan subjektif. Penelitian juga menunjukkan bahwa guru mengalami tekanan dalam perubahan menuju pembelajaran jarak jauh.

Sebuah systematic review yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychology pada 2022 menganalisis 17 penelitian dengan total 9.874 guru K–12 dari 20 negara. Kajian tersebut menemukan adanya indikasi peningkatan burnout pada guru selama pandemi. Beban kerja, tuntutan teknologi, persoalan pengelolaan waktu, kesulitan menyeimbangkan kehidupan rumah dan pekerjaan, serta tuntutan pembelajaran daring menjadi sejumlah faktor yang berkaitan dengan stres dan kelelahan guru.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa guru yang harus menggabungkan pembelajaran tatap muka dan daring mengalami tingkat stres yang lebih tinggi dalam salah satu studi yang dianalisis. Beban kerja yang lebih tinggi dan tuntutan teknologi juga berkaitan dengan kelelahan emosional.

Ada pula penelitian yang secara khusus membahas technostress atau tekanan yang muncul akibat tuntutan penggunaan teknologi dalam pekerjaan akademik daring. Ketika teknologi yang seharusnya menjadi alat bantu justru menuntut guru untuk terus beradaptasi, memecahkan persoalan teknis, dan selalu terkoneksi, teknologi dapat berubah menjadi sumber tekanan baru.

Karena itu, saya kira tidak adil jika pembelajaran daring hanya dilihat dari sisi murid. Murid bisa lelah karena terlalu banyak tugas. Guru juga bisa lelah karena terlalu banyak yang harus dikerjakan.

Murid bisa mengalami kejenuhan karena terlalu lama berada di depan layar. Guru pun demikian.

Murid bisa mengalami kesulitan memahami materi tanpa interaksi langsung. Guru juga menghadapi kesulitan ketika harus memastikan puluhan bahkan ratusan murid tetap memahami pembelajaran melalui ruang digital.

Terlebih dalam konteks kabut asap. Pembelajaran daring bukan pilihan yang muncul dalam situasi normal. Ia hadir sebagai bentuk adaptasi terhadap keadaan. Karena itu, menurut saya, tujuan utamanya bukan mengejar sebanyak mungkin materi atau memberikan sebanyak mungkin tugas, yang paling penting adalah menjaga agar proses pendidikan tetap berjalan tanpa membuat murid dan guru kehilangan kemampuan untuk menjalaninya dengan sehat.

Mungkin pada kondisi seperti ini kita perlu sedikit menurunkan ambisi untuk menuntaskan semuanya. Tidak semua materi harus dipaksakan selesai dengan cara yang sama seperti ketika pembelajaran berlangsung normal. Tidak semua tugas harus diberikan hanya karena platform pembelajaran memungkinkan kita memberikannya.

Ada saatnya pendidikan membutuhkan target. Tetapi ada pula saatnya pendidikan membutuhkan kelapangan.

Kita perlu mengingat bahwa di balik layar pembelajaran daring ada manusia. Ada murid yang mungkin sedang belajar di tengah udara yang tidak sehat. Ada orang tua yang sedang berusaha mendampingi anaknya. Ada guru yang sejak pagi menyiapkan materi, mengajar, menjawab pertanyaan, memeriksa tugas, dan kembali menyiapkan pembelajaran untuk kelas berikutnya.

Karena itu, barangkali ukuran keberhasilan kita dalam situasi seperti ini bukan hanya berapa banyak materi yang selesai, berapa banyak tugas yang dikumpulkan, atau berapa banyak pertemuan yang terlaksana. Bisa jadi ukuran keberhasilannya jauh lebih sederhana, anak-anak tetap belajar, guru tetap mampu mengajar, dan semuanya tetap baik-baik saja sampai keadaan kembali normal.

Saya percaya guru akan selalu berusaha memberikan yang terbaik. Tetapi guru juga memiliki batas. Kapasitas manusia tidak selalu bisa mengikuti tuntutan sistem yang terus bertambah.

Maka dukungan sekolah, komunikasi yang baik, pembagian beban kerja yang proporsional, serta pemahaman bahwa pembelajaran dalam kondisi darurat tidak harus disamakan dengan pembelajaran dalam kondisi normal menjadi sangat penting.

Kabut asap pada akhirnya bukan hanya persoalan jarak pandang. Ia juga mengubah ritme kehidupan kita. Ruang kelas berpindah ke rumah, interaksi berubah menjadi layar, dan rutinitas yang biasanya sederhana menjadi lebih kompleks. Namun saya berharap keadaan ini tidak berlangsung terlalu lama.

Semoga kabut asap segera berlalu. Semoga udara kembali bersih. Semoga kesehatan masyarakat tetap terjaga dan semoga sekolah dapat segera kembali normal.

Kita tentu merindukan ruang-ruang kelas yang kembali hidup. Guru yang bisa menjelaskan tanpa perantara layar. Murid yang bisa bertanya secara langsung. Diskusi yang tumbuh spontan. Tawa yang muncul di sela-sela pembelajaran. Dan interaksi sederhana yang selama ini mungkin kita anggap biasa, tetapi ternyata begitu berarti. Sebab sekolah bukan hanya tempat menyampaikan materi. Sekolah adalah ruang tempat manusia bertemu, belajar, tumbuh, dan saling menguatkan.

Ketika nanti kabut itu benar-benar pergi, semoga kita kembali ke sekolah bukan hanya dengan udara yang lebih bersih, tetapi juga dengan kesadaran baru, bahwa dalam pendidikan, yang perlu kita jaga bukan hanya proses belajarnya, tetapi juga manusia yang menjalankannya.

Tidak ada komentar