Ada penghargaan yang membuat kita merasa berhasil. Tetapi ada pula penghargaan yang justru membuat kita berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan mengingat kembali alasan mengapa perjalanan ini dimulai.
Bagi saya, menerima Indonesia Baik Awards 2024 kategori Interfaith dari KBR Media adalah salah satu momen tersebut.
Saya tentu bersyukur. Namun, semakin saya memaknainya, semakin saya merasa bahwa penghargaan ini bukan tentang sebuah pencapaian pribadi. Ia adalah penanda dari perjalanan yang jauh lebih panjang—perjalanan yang dibangun bersama banyak orang, komunitas, anak muda, kawan-kawan lintas iman, dan mereka yang percaya bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh.
Bahkan sebelum penghargaan itu datang, saya sudah lebih dulu menemukan keyakinan bahwa merawat keberagaman bukan pekerjaan yang selesai hanya dengan berbicara tentang toleransi. Toleransi harus dipertemukan dengan perjumpaan.
Sebab sering kali, yang membuat kita takut pada perbedaan adalah karena kita tidak pernah benar-benar mengenalnya.
Saya Memilih Perjumpaan
Perjalanan saya bersama SADAP Indonesia atau Perkumpulan Pemuda Satu Dalam Perbedaan menjadi salah satu bagian penting dari proses tersebut. Sejak 2017, saya belajar bahwa anak muda memiliki energi yang luar biasa untuk membangun ruang bersama. Mereka hanya membutuhkan kesempatan untuk bertemu, berdialog, saling mengenal, dan menemukan bahwa perbedaan identitas tidak menghalangi mereka untuk berteman dan bekerja bersama.
Di SADAP, saya tidak hanya belajar tentang keberagaman. Saya mengalami keberagaman itu sendiri. Saya bertemu dengan orang-orang yang memiliki keyakinan, latar belakang, tradisi, dan pengalaman hidup yang berbeda. Kami berdiskusi, berkunjung, membuat kegiatan bersama, berbagi cerita, dan sesekali berbeda pandangan, dari sana saya memahami satu hal sederhana:
Persaudaraan tidak selalu lahir karena kita memiliki kesamaan. Kadang ia justru tumbuh karena kita belajar menghargai perbedaan.
Bagi saya, itulah inti dari kerja-kerja keberagaman. Bukan membuat semua orang menjadi sama, tetapi menciptakan ruang agar setiap orang dapat hadir sebagai dirinya sendiri tanpa harus merasa lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain.
Tepelima: Belajar Hidup dalam Keberagaman
Di sana, anak-anak muda datang membawa identitas masing-masing. Ada perbedaan keyakinan, budaya, pengalaman, bahkan cara melihat persoalan. Tetapi selama proses berlangsung, sekat-sekat itu perlahan mencair melalui percakapan dan pengalaman bersama.
Saya melihat sendiri bagaimana perjumpaan dapat mengubah cara seseorang memandang orang lain, yang awalnya hanya dikenal sebagai “orang dari agama lain”, kemudian menjadi teman, yang sebelumnya hanya diketahui dari stereotip, kemudian dikenal melalui cerita dan pengalaman nyata, yang awalnya terasa asing, perlahan menjadi dekat.
Bagi saya, proses seperti itulah yang jauh lebih penting daripada sekadar berbicara tentang toleransi. Karena toleransi yang hanya menjadi konsep bisa dengan mudah dilupakan. Tetapi pengalaman hidup bersama perbedaan akan tinggal sebagai ingatan.
Tepelima mengajarkan saya bahwa merawat keberagaman membutuhkan ruang yang aman untuk bertemu, bertanya, berdialog, dan bahkan berbeda pendapat tanpa kehilangan rasa hormat.
Pendidikan Keberagaman Bukan Sekadar Materi
Sebagai seorang guru, perjalanan ini kemudian membawa saya pada satu kesadaran lain bahwa kerja keberagaman tidak boleh berhenti di komunitas. Ia harus masuk ke ruang pendidikan.
Sekolah memiliki peran penting dalam membentuk cara anak-anak muda melihat dunia. Mereka bukan hanya belajar matematika, bahasa, sains, atau sejarah. Mereka juga sedang belajar bagaimana menjadi manusia yang hidup bersama manusia lainnya.
Karena itu, bagi saya, pendidikan keberagaman bukan sekadar memberikan materi tentang toleransi. Lebih dari itu, pendidikan harus memberikan pengalaman untuk menghargai perbedaan.
Anak-anak perlu belajar bahwa teman yang berbeda agama tetap bisa menjadi sahabat. Bahwa perbedaan budaya bukan alasan untuk mengejek. Bahwa perbedaan pendapat tidak harus berakhir dengan permusuhan. Bahwa identitas seseorang tidak membuatnya lebih tinggi ataupun lebih rendah dari orang lain.
Saya percaya sekolah harus menjadi ruang tempat keberagaman dirayakan sebagai kenyataan, bukan sekadar dibicarakan sebagai teori dan di situlah saya menemukan bahwa pekerjaan saya sebagai pendidik dan kerja-kerja keberagaman yang saya jalani sebenarnya memiliki titik temu yang sangat kuat.
Keduanya sama-sama berbicara tentang manusia. Tentang bagaimana kita belajar memahami. Tentang bagaimana kita belajar menghargai dan tentang bagaimana kita belajar hidup bersama.
Jejaring yang Mempertemukan Banyak Perbedaan
Semakin lama terlibat dalam kerja-kerja ini, saya semakin menyadari bahwa tidak ada gerakan keberagaman yang dapat berjalan sendirian. SADAP tidak mungkin tumbuh tanpa jejaring. Tepelima tidak mungkin menjadi ruang perjumpaan tanpa banyak pihak yang bersedia membuka pintu.
Pendidikan keberagaman juga tidak mungkin berkembang jika hanya dikerjakan oleh satu orang atau satu komunitas. Karena itu, perjalanan ini juga membawa saya bertemu dengan begitu banyak komunitas, organisasi, tokoh, anak muda, pendidik, dan kelompok lintas iman.
Ada ruang-ruang yang mempertemukan kami. Ada kolaborasi yang kemudian melahirkan kegiatan. Ada jejaring yang awalnya hanya berupa perkenalan, kemudian berkembang menjadi persahabatan dan kerja bersama.
Saya belajar bahwa jejaring bukan sekadar banyaknya orang yang kita kenal. Jejaring adalah tentang seberapa banyak orang yang bersedia berjalan bersama untuk tujuan yang sama dan dalam kerja keberagaman, kolaborasi menjadi sangat penting. Karena keberagaman itu sendiri adalah kerja bersama.
Ketika KBR Memberi Sebuah Predikat
Kemudian datanglah penghargaan itu Indonesia Baik Awards 2024 kategori Interfaith.
Saya menerimanya dengan rasa syukur, tetapi juga dengan perasaan yang cukup dalam. Sebab ketika sebuah perjalanan yang kita jalani bersama kemudian diberi pengakuan, yang pertama kali terlintas di pikiran saya bukanlah diri saya sendiri.
Saya justru teringat banyak orang. Orang-orang yang pernah duduk bersama. Kawan-kawan yang pernah berdiskusi hingga larut. Anak-anak muda yang datang dari berbagai latar belakang. Mereka yang membuka rumah ibadah dan ruang komunitasnya. Mereka yang bersedia berkolaborasi meskipun berbeda identitas dan semua orang yang percaya bahwa Indonesia harus tetap menjadi rumah bersama.
Karena itu, bagi saya, predikat Interfaith adalah sebuah penghormatan sekaligus pengingat. Penghormatan atas perjalanan yang telah dilakukan dan pengingat bahwa perjalanan tersebut masih panjang.
Penghargaan Bukan Akhir
Saya tidak ingin penghargaan menjadi garis akhir. Justru sebaliknya. Ia harus menjadi energi untuk terus bekerja.
Sebab tantangan keberagaman hari ini semakin kompleks. Perbedaan dapat dengan mudah dipertajam melalui media sosial. Informasi yang belum tentu benar dapat membangun prasangka. Orang dapat saling menghakimi tanpa pernah benar-benar bertemu.
Di tengah keadaan seperti itu, ruang perjumpaan menjadi semakin penting. Kita membutuhkan lebih banyak ruang yang mempertemukan daripada memisahkan. Lebih banyak dialog daripada prasangka. Lebih banyak kolaborasi daripada kecurigaan dan lebih banyak anak muda yang memiliki pengalaman hidup bersama orang-orang yang berbeda dari dirinya.
Saya percaya, Indonesia tidak akan menjadi kuat karena kita semua menjadi sama. Indonesia akan kuat ketika kita mampu menjaga perbedaan tanpa kehilangan persaudaraan.
Saya Ingin Terus Berjalan
Jika suatu hari penghargaan ini tidak lagi disebut, saya berharap kerja-kerja ini tetap berjalan. Sebab bagi saya, tujuan akhirnya bukan penghargaan. Tujuannya adalah menghadirkan lebih banyak ruang aman untuk perjumpaan. Membantu lebih banyak anak muda mengenal keberagaman bukan dari prasangka, tetapi dari pengalaman. Membawa nilai-nilai keberagaman ke dalam pendidikan. Memperluas jejaring lintas iman dan terus menemukan orang-orang yang percaya bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan ketika dirawat bersama.
Saya tidak ingin menjadi orang yang hanya berbicara tentang toleransi. Saya ingin terus berada dalam kerja-kerja yang membuat toleransi itu benar-benar terasa. Duduk bersama, mendengar, belajar, berbeda. bekerja bersama. Lalu pulang dengan pemahaman bahwa ternyata kita tidak sesulit itu untuk hidup berdampingan.
Mungkin itulah makna paling sederhana dari perjalanan saya. Bahwa Indonesia yang baik tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar. Kadang ia lahir dari sebuah perjumpaan kecil. Dari dua orang yang berbeda kemudian memilih untuk saling mengenal. Dari anak-anak muda yang memilih berteman melampaui identitas. Dari guru yang mengajarkan muridnya untuk menghargai perbedaan. Dari komunitas yang membuka ruang. Dari jejaring yang memilih berkolaborasi. Dan dari orang-orang yang setiap hari memutuskan bahwa perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti menjadi saudara sebangsa.
Indonesia Baik, bagi saya, bukan hanya sebuah penghargaan.
Ia adalah sebuah pekerjaan. Pekerjaan yang mungkin tidak pernah selesai dan saya ingin terus menjadi bagian kecil dari pekerjaan itu.
Karena pada akhirnya, merawat Indonesia bukan tentang membuat semua orang menjadi sama. Merawat Indonesia adalah memastikan bahwa yang berbeda tetap memiliki ruang untuk hidup, tumbuh, bertemu, dan berjalan bersama.





Tidak ada komentar