Menjadi guru sejarah bagi saya bukan sekadar mengajarkan peristiwa masa lalu. Lebih dari itu, saya melihat sejarah sebagai jalan untuk membantu peserta didik memahami identitas, lingkungan, keberagaman, dan perubahan yang terjadi di sekitarnya.
Sudah lebih dari lima tahun saya menjalani perjalanan sebagai guru sejarah di SMAN 1 Pontianak. Dalam perjalanan tersebut, saya belajar bahwa menjadi guru tidak cukup hanya menguasai materi. Guru perlu terus belajar, beradaptasi, berkarya, dan membuka ruang kolaborasi.
Ketika dipercaya menjadi Ketua MGMP Sejarah SMA Kota Pontianak 2025-2027, saya membawa keyakinan yang sama. Bagi saya, MGMP bukan hanya tempat berkumpulnya guru atau menjalankan agenda administratif. MGMP harus menjadi ruang untuk saling belajar, berbagi praktik baik, mengembangkan kompetensi, dan mencari solusi bersama atas berbagai tantangan pendidikan.
Saya berusaha menjadikan pengalaman mengajar sebagai ruang untuk terus bereksperimen. Salah satunya melalui TRALIS (Tradisi Lisan), yang saya kembangkan untuk membawa peserta didik lebih dekat dengan sejarah dan tradisi lokal Kalimantan Barat. Melalui pendekatan tersebut, siswa tidak hanya belajar dari buku, tetapi melakukan penelitian, menggali cerita dari masyarakat, mendokumentasikan, dan mengubahnya menjadi karya.
Pengalaman tersebut kemudian melahirkan berbagai karya, termasuk dokumentasi yang memperoleh pencatatan HKI serta keterlibatan dalam buku Candramawa: Hitam Putih, dan sebuah antologi cerita rakyat Kalimantan Barat.
Di luar sekolah, saya juga memilih untuk terlibat dalam kerja-kerja sosial dan kepemudaan. Sebagai Ketua SADAP Indonesia, saya belajar bahwa keberagaman bukan sekadar konsep yang dibicarakan, tetapi sesuatu yang harus dirawat melalui perjumpaan, dialog, dan kerja bersama. Pengalaman dalam berbagai kegiatan lintas komunitas, termasuk Temu Pemuda Lintas Iman (TEPELIMA) Kalbar, turut membentuk cara pandang saya sebagai pendidik.
Bagi saya, pendidikan dan gerakan sosial memiliki titik temu yang sama: keduanya berusaha menciptakan manusia yang mampu memahami dirinya, menghargai orang lain, dan mengambil peran di lingkungannya.
Berbagai apresiasi dan pencapaian yang saya terima tentu menjadi bagian yang saya syukuri. Namun, saya tidak ingin menjadikan penghargaan sebagai tujuan akhir. Bagi saya, setiap pencapaian justru membawa tanggung jawab untuk terus belajar dan memberikan manfaat yang lebih luas.
Karena itu, dalam menjalankan amanah sebagai Ketua MGMP Sejarah SMA Kota Pontianak, saya ingin membangun budaya yang lebih kolaboratif. Saya ingin guru sejarah memiliki ruang untuk tumbuh bersama, mengembangkan inovasi pembelajaran, melakukan penelitian, mendokumentasikan sejarah lokal, menghasilkan karya, dan saling menguatkan.
Saya percaya bahwa tantangan pendidikan hari ini tidak bisa diselesaikan dengan berjalan sendiri-sendiri. Kita membutuhkan kolaborasi, keberanian untuk mencoba hal baru, dan kemauan untuk terus belajar.
Ke depan, harapan saya sederhana, tetapi penting: semoga MGMP Sejarah SMA Kota Pontianak semakin menjadi ruang yang hidup bagi guru-guru sejarah. Ruang untuk belajar, berdiskusi, berkarya, dan memberikan kontribusi nyata bagi pendidikan.
Saya ingin sejarah tidak berhenti sebagai hafalan tentang tanggal, tokoh, dan peristiwa. Sejarah harus menjadi cara bagi peserta didik untuk memahami siapa mereka, mengenali akar kehidupannya, membaca persoalan hari ini, dan membayangkan masa depan.
Saya mungkin tidak bisa melakukan semuanya sendiri. Tetapi saya percaya, ketika kita bergerak bersama, pengalaman dan gagasan yang kecil dapat menjadi perubahan yang lebih besar.
Bagi saya, merawat sejarah bukan hanya tentang menjaga ingatan masa lalu. Merawat sejarah adalah tentang memastikan generasi hari ini memiliki bekal untuk menulis masa depannya.

.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
Tidak ada komentar