Sembilan Tahun SADAP Indonesia: Merawat Perbedaan, Menumbuhkan Harapan

Sembilan tahun.

Jika dihitung sebagai angka, mungkin ia hanya sebuah rentang waktu. Tetapi bagi SADAP Indonesia, sembilan tahun adalah perjalanan yang dipenuhi perjumpaan, pembelajaran, tantangan, kehilangan, kegembiraan, dan terutama keyakinan bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh.

SADAP Indonesia lahir pada 2017 dari sebuah kegelisahan sekaligus harapan sederhana: bahwa anak-anak muda perlu memiliki ruang untuk bertemu, berbicara, belajar, dan bekerja bersama di tengah keberagaman.

Sembilan tahun kemudian, kami semakin memahami bahwa merawat keberagaman bukan pekerjaan yang selesai dalam satu kegiatan. Ia adalah proses panjang. Kadang melelahkan, kadang penuh keraguan, tetapi selalu menemukan maknanya ketika kita melihat orang-orang yang sebelumnya berbeda akhirnya bisa duduk bersama, saling mendengar, dan memilih untuk berjalan bersama.

Tumbuh di Tengah Tantangan


Perjalanan sembilan tahun tentu tidak selalu mudah.

Ada masa ketika sumber daya terbatas. Ada program yang harus berjalan dengan segala keterbatasan. Ada perbedaan pandangan di antara kami. Ada pula pertanyaan tentang apakah kerja-kerja keberagaman yang dilakukan anak muda benar-benar mampu membawa perubahan.

Kami belajar bahwa tantangan terbesar bukan hanya bagaimana membuat sebuah kegiatan terlaksana, tetapi bagaimana menjaga semangat agar tetap hidup setelah kegiatan berakhir.

Sebab keberagaman tidak cukup dirayakan melalui spanduk, diskusi, atau seremoni. Ia harus hadir dalam cara kita memperlakukan orang lain, dalam keberanian untuk mendengar suara yang berbeda, dan dalam kesediaan untuk bekerja bersama meskipun tidak selalu sepakat.

Di situlah perjalanan SADAP menjadi proses belajar yang sesungguhnya.

Tepelima: Dari Pertemuan Menjadi Persaudaraan


Salah satu perjalanan yang paling bermakna adalah Tepelima — Temu Pemuda Lintas Iman Kalimantan Barat.

Dari Tepelima I hingga Tepelima VII, kami menyaksikan bagaimana sebuah ruang perjumpaan dapat tumbuh menjadi jejaring persahabatan dan kerja bersama.

Tepelima bukan sekadar mempertemukan pemuda dari latar belakang iman yang berbeda. Lebih dari itu, ia menjadi ruang untuk membongkar prasangka, mengenal manusia di balik identitas, dan menyadari bahwa sering kali yang membuat kita berjarak bukanlah perbedaan itu sendiri, melainkan ketidaktahuan dan prasangka terhadap perbedaan.

Di setiap pertemuan, selalu ada cerita baru.

Ada orang yang datang dengan rasa canggung, lalu pulang membawa sahabat. Ada percakapan sederhana yang kemudian membuka cara pandang baru. Ada perbedaan yang awalnya terasa sebagai jarak, tetapi perlahan berubah menjadi jembatan.

Tepelima mengajarkan kami bahwa toleransi tidak cukup hanya dengan mengatakan “kita berbeda.” Toleransi harus dilanjutkan dengan keberanian untuk mengenal, memahami, dan bekerja bersama.

Kerja Kolaboratif: Karena Tidak Ada Perubahan yang Dikerjakan Sendiri

Sembilan tahun juga mengajarkan satu hal penting: SADAP Indonesia tidak pernah berjalan sendirian.

Banyak hal yang berhasil dilakukan karena adanya kolaborasi dengan komunitas, organisasi kepemudaan, lembaga masyarakat sipil, sekolah, perguruan tinggi, tokoh agama, pemerintah, media, dan begitu banyak individu yang percaya pada gagasan yang kami perjuangkan.

Kerja-kerja kolaboratif itulah yang membuat perjalanan ini menjadi lebih luas.

Kami belajar bahwa perubahan tidak selalu lahir dari sebuah organisasi besar. Kadang ia dimulai dari beberapa orang yang mau duduk bersama, mengobrol, saling percaya, lalu melakukan sesuatu.

Dari ruang-ruang kecil itu, lahirlah berbagai kegiatan pendidikan keberagaman, kampanye toleransi, diskusi lintas iman, penguatan komunitas, pendampingan anak muda, hingga berbagai kerja sosial.

Bagi kami, kolaborasi bukan sekadar mencantumkan banyak nama dalam sebuah kegiatan. Kolaborasi adalah kesediaan untuk berbagi ruang, berbagi peran, berbagi pengetahuan, bahkan berbagi keyakinan bahwa tujuan bersama jauh lebih penting daripada siapa yang paling terlihat.

Pencapaian yang Sesungguhnya

Selama sembilan tahun, tentu ada pencapaian yang patut disyukuri.

Namun semakin panjang perjalanan, kami justru semakin berhati-hati mendefinisikan apa itu pencapaian.

Bukan hanya tentang berapa banyak kegiatan yang telah dilakukan.

Bukan pula sekadar berapa banyak peserta yang pernah hadir.

Pencapaian terbesar mungkin justru ketika seseorang yang dahulu takut dengan perbedaan akhirnya berani berteman dengan mereka yang berbeda.

Ketika seorang anak muda menemukan ruang untuk bersuara.

Ketika seseorang bersedia mengoreksi prasangkanya.

Ketika dua kelompok yang sebelumnya tidak saling mengenal akhirnya menemukan alasan untuk bekerja bersama.

Dan ketika nilai-nilai keberagaman tidak berhenti menjadi wacana, tetapi diterjemahkan menjadi tindakan.

Jika itu terjadi, sekecil apa pun, bagi kami itulah pencapaian yang paling berarti.

Sembilan Tahun Bukan Tentang Kami Saja


Hari ini, ketika melihat kembali perjalanan sejak 2017, kami menyadari bahwa SADAP Indonesia tidak pernah benar-benar dibangun oleh segelintir orang.

Ia tumbuh dari begitu banyak tangan.

Dari mereka yang hadir di kegiatan pertama.

Dari kawan-kawan yang membantu ketika sumber daya kami terbatas.

Dari fasilitator yang membagikan pengetahuan.

Dari komunitas yang membuka ruang kolaborasi.

Dari orang-orang yang mungkin namanya tidak pernah tercatat dalam publikasi, tetapi diam-diam memastikan sebuah kegiatan tetap berjalan.

Dan dari setiap anak muda yang memilih untuk percaya bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan ancaman.

Karena itu, sembilan tahun ini bukan hanya milik SADAP Indonesia.

Sembilan tahun ini adalah milik semua orang yang pernah berjalan bersama.

Terima Kasih

Terima kasih kepada seluruh sahabat, relawan, komunitas, organisasi, lembaga, mitra, keluarga, dan siapa pun yang pernah memberikan waktu, tenaga, pikiran, ruang, bahkan sekadar doa untuk perjalanan SADAP Indonesia.

Terima kasih kepada mereka yang pernah datang dan kemudian pergi.

Terima kasih kepada mereka yang tetap tinggal.

Terima kasih kepada mereka yang pernah berbeda pandangan dengan kami, karena dari perbedaan itu kami belajar untuk menjadi lebih dewasa.

Dan terima kasih kepada generasi muda yang terus mengingatkan kami bahwa harapan tidak pernah boleh kehilangan tempatnya.

Jika selama perjalanan ini ada kekurangan, kesalahan, atau langkah yang belum sempurna, kami menerimanya sebagai bagian dari proses belajar.

Sebab organisasi yang tumbuh adalah organisasi yang bersedia terus mengevaluasi dirinya.

Setelah Sembilan Tahun, Ke Mana Kita Akan Berjalan?

Sembilan tahun bukan garis akhir.

Justru mungkin ia adalah pengingat bahwa perjalanan masih panjang.

Indonesia akan terus berubah. Tantangan terhadap keberagaman juga akan berubah. Polarisasi, prasangka, intoleransi, disinformasi, dan berbagai bentuk diskriminasi dapat hadir dalam wajah yang berbeda pada setiap zaman.

Karena itu, kerja merawat keberagaman tidak boleh berhenti pada generasi hari ini.

Kami berharap SADAP Indonesia terus menjadi ruang yang terbuka bagi anak muda untuk belajar menjadi manusia yang mampu melihat orang lain bukan hanya dari identitasnya, tetapi dari kemanusiaannya.

Kami berharap semakin banyak ruang perjumpaan lahir.

Semakin banyak perbedaan yang tidak lagi ditakuti.

Semakin banyak kolaborasi yang melampaui sekat identitas.

Dan semakin banyak anak muda yang percaya bahwa menjadi berbeda bukan berarti harus berjalan sendiri.

Pada akhirnya, mungkin warisan terbesar sebuah gerakan bukanlah nama, jumlah kegiatan, ataupun dokumentasi yang tersimpan.

Warisan terbesar adalah nilai yang terus hidup setelah orang-orang yang memulainya tidak lagi berada di sana.

Sembilan tahun SADAP Indonesia adalah tentang menjaga nilai itu tetap hidup.

Tentang terus percaya bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan.

Tentang memilih dialog ketika kebencian terasa lebih mudah.

Tentang memilih perjumpaan ketika prasangka mulai tumbuh.

Tentang memilih kolaborasi ketika ego mengajak berjalan sendiri.

Dan tentang terus menanam harapan, bahkan ketika hasilnya mungkin belum bisa kita lihat hari ini.

Sebab kita mungkin tidak selalu bisa mengubah dunia dalam satu kegiatan.

Tetapi kita bisa mengubah cara seseorang memandang orang lain.

Dan dari satu cara pandang yang berubah, mungkin lahir satu pertemanan.

Dari satu pertemanan, lahir kepercayaan.

Dari kepercayaan, lahir kolaborasi.

Dan dari kolaborasi, perlahan-lahan, lahir perubahan.

Sembilan tahun SADAP Indonesia.

Bukan tentang seberapa jauh kami telah berjalan.

Tetapi tentang berapa banyak orang yang kami temui, berapa banyak hati yang belajar saling memahami, dan berapa banyak harapan yang masih ingin kami perjuangkan bersama.

Mari terus berjalan.
Merawat perbedaan.
Menjaga persaudaraan.
Dan menumbuhkan harapan.

Karena Indonesia yang beragam tidak hanya membutuhkan orang-orang yang mampu hidup berdampingan, tetapi juga mereka yang bersedia merawat ruang agar setiap orang merasa memiliki tempat di dalamnya.

Selamat ulang tahun ke-9, SADAP Indonesia.

Dari perbedaan, kita bertemu.
Dari perjumpaan, kita belajar.
Dari kolaborasi, kita bergerak.
Dan dari harapan, kita terus berjalan.

Tidak ada komentar