Ketika kabut asap membuat sekolah harus menerapkan Belajar dari Rumah (BDR), muncul kekhawatiran yang sangat masuk akal: jangan sampai murid mengalami learning loss.
Kekhawatiran tersebut bukan sesuatu yang berlebihan. Pembelajaran dari rumah memang tidak selalu mampu menggantikan pengalaman belajar tatap muka. Akses internet, kondisi rumah, pendampingan orang tua, motivasi belajar, interaksi dengan guru, hingga kemampuan murid mengatur waktu belajar sangat beragam.
Penelitian terhadap lebih dari 2.200 rumah tangga di tujuh negara Asia Tenggara menemukan bahwa 79% responden merasa perkembangan belajar anak lebih lambat selama penutupan sekolah dibandingkan pembelajaran tatap muka. Penelitian yang sama juga menunjukkan bahwa pembelajaran jarak jauh berbasis internet atau kombinasi beberapa moda pembelajaran lebih membantu menjaga perkembangan belajar dibandingkan hanya mengandalkan satu moda tertentu.
Artinya, kekhawatiran terhadap learning loss memang memiliki dasar. Namun, ada persoalan lain yang juga harus kita bicarakan: Bagaimana kita mencegah learning loss tanpa menciptakan teacher overload?
BDR Bukan Berarti Guru Bekerja Tanpa Batas
Ketika murid belajar dari rumah, bukan berarti pekerjaan guru menjadi lebih sedikit. Justru dalam kondisi tertentu, pekerjaan guru dapat menjadi lebih kompleks.
Guru harus menyiapkan materi yang dapat dipahami tanpa tatap muka, memilih media pembelajaran, memberikan instruksi yang jelas, memantau kehadiran dan aktivitas murid, menjawab pertanyaan melalui berbagai kanal komunikasi, memberikan umpan balik, melakukan asesmen, sekaligus tetap menjalankan tugas-tugas sekolah lainnya.
Pada saat yang sama, guru juga manusia. Guru memiliki waktu, energi, dan kapasitas yang terbatas.
Hasil TALIS 2024 dari OECD menunjukkan bahwa sekitar 52% guru di berbagai sistem pendidikan OECD melaporkan pekerjaan administrasi sebagai sumber stres. OECD juga menemukan bahwa tambahan waktu untuk administrasi, pemeriksaan tugas, dan komunikasi dengan orang tua berkaitan dengan penurunan kesejahteraan guru. Temuan ini penting untuk dibaca dalam konteks BDR.
Sebab ketika pembelajaran dipindahkan ke rumah, kita tidak bisa serta-merta berpikir: "Kalau murid tidak belajar di sekolah, berarti guru harus memberikan lebih banyak tugas agar pembelajaran tetap berjalan." - Tidak sesederhana itu.
Mengejar learning Loss Bukan Berarti Memperbanyak Tugas
Salah satu jebakan dalam situasi seperti ini adalah mengukur keberhasilan pembelajaran berdasarkan banyaknya tugas yang diberikan. Padahal, banyak tugas belum tentu berarti banyak belajar.
Murid bisa saja menerima lima, sepuluh, atau bahkan lebih banyak tugas dalam satu hari. Tetapi apakah mereka benar-benar memahami konsep yang dipelajari?. Di sisi lain, guru harus membaca, memeriksa, memberikan umpan balik, mencatat, dan menindaklanjuti tugas tersebut.
Jika setiap guru melakukan hal yang sama untuk setiap mata pelajaran, beban akhirnya berpindah dari sekolah ke rumah murid dan dari murid kepada guru. Karena itu, dalam situasi BDR akibat kabut asap, yang perlu dikejar bukan sebanyak mungkin materi, melainkan kompetensi yang paling esensial.
Lebih baik murid memahami beberapa konsep penting secara mendalam daripada menyelesaikan banyak tugas tetapi tidak memperoleh pemahaman yang berarti.
Keselamatan Tetap Menjadi Fondasi
Kita juga perlu menempatkan persoalan ini secara proporsional. Ketika kualitas udara membahayakan kesehatan, keputusan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah merupakan bagian dari upaya melindungi murid dan warga sekolah. Belajar dapat dikejar. Kesehatan tidak boleh dipertaruhkan.
Karena itu, BDR dalam situasi kabut asap seharusnya tidak dipandang sebagai "libur terselubung", tetapi juga tidak boleh diperlakukan seperti pembelajaran tatap muka yang sekadar dipindahkan ke layar. BDR adalah kondisi khusus yang membutuhkan penyesuaian target, metode, beban tugas, dan ekspektasi.
Jangan Membuat Guru Menjadi Satu-Satunya Penyelamat Learning Loss
Pemulihan pembelajaran tidak mungkin dibebankan hanya kepada guru. Sekolah perlu memberikan ruang kepada guru untuk berkolaborasi dan menentukan prioritas pembelajaran. Orang tua dapat membantu menciptakan suasana belajar yang mendukung di rumah. Murid perlu diberi kesempatan untuk belajar secara mandiri sesuai kemampuannya. Teknologi dapat digunakan untuk menyediakan sumber belajar yang fleksibel. Dan yang tidak kalah penting, kebijakan sekolah perlu mempertimbangkan kapasitas nyata guru dan murid.
Penelitian di Asia Tenggara menunjukkan bahwa akses dan jenis pembelajaran jarak jauh berpengaruh terhadap kemampuan anak mempertahankan perkembangan belajarnya. Sementara itu, penelitian OECD menunjukkan bahwa tuntutan kerja yang berlebihan dapat berpengaruh terhadap kesejahteraan guru dan pada akhirnya berkaitan dengan kemampuan mereka menjalankan pekerjaan secara efektif. Maka solusinya bukan memilih antara murid atau guru.Kita harus menjaga keduanya.
Mungkin yang Kita Butuhkan Bukan "Lebih Banyak", Tetapi "Lebih Tepat"
Dalam kondisi BDR karena kabut asap, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan: "Berapa banyak materi yang harus diselesaikan?" Tetapi "Apa yang paling penting untuk dipelajari murid dalam kondisi seperti ini?"
Bukan "Berapa banyak tugas yang bisa diberikan?" Tetapi "Tugas seperti apa yang benar-benar membantu murid belajar?" Dan bukan "Bagaimana guru bisa bekerja lebih keras?" Tetapi "Bagaimana sistem dapat membantu guru bekerja lebih efektif tanpa melampaui kapasitasnya?"
Sebab guru yang kelelahan bukan solusi bagi learning loss. Begitu pula murid yang dibebani terlalu banyak tugas di tengah kondisi belajar yang tidak ideal belum tentu mengalami proses belajar yang lebih baik.
Kita Perlu Menjaga Dua Hal Sekaligus
Kekhawatiran terhadap learning loss harus tetap ada. Tetapi kekhawatiran terhadap teacher overload juga harus dibicarakan. Murid membutuhkan pembelajaran. Guru membutuhkan dukungan. Murid membutuhkan perlindungan dari dampak kabut asap. Guru juga membutuhkan kondisi kerja yang memungkinkan mereka tetap menjalankan tugas secara manusiawi. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar tentang mengejar ketertinggalan materi.
Pendidikan adalah tentang memastikan proses belajar tetap berlangsung dalam kondisi yang aman, bermakna, dan manusiawi.
Jadi, ketika kabut asap memaksa kita belajar dari rumah, jangan buru-buru merasa bersalah karena pembelajaran tidak berjalan seperti biasanya. Mari kita lakukan yang paling penting terlebih dahulu selamatkan kesehatan, jaga keberlangsungan belajar, prioritaskan kompetensi esensial, dan jangan lupa bahwa guru juga memiliki batas kapasitas. Karena learning loss memang harus kita cegah.
Tetapi jangan sampai dalam upaya mencegahnya, kita justru kehilangan sesuatu yang sama pentingnya: guru yang sehat, berdaya, dan mampu terus mendampingi murid belajar.

Tidak ada komentar